Perkembangan smartphone yang pesat ikut pula menjadi parameter dalam pengembangan konten. Bahkan, kita pun tahu bahwa ponsel tak lagi sebatas sebagai alat komunikasi semata, namun bisa lebih luas, yang diantaranya sebagai perangkat multimedia portabel.
Terkait konten, ada yang berupa format video. Nah, di sini tampaknya penyedia konten berlomba-lomba menghadirkan konten video dengan definisi tinggi (video HD). Memang sih, secara kualitas gambar lebih oke, dimana smartphone pun terukur kompatibel dengan format macam ini. Tapi, ternyata ada tanggapan yang berbeda terkait konten video ini, yang agak berlawanan dengan tujuan penyedia konten.
Pada sebuah survey yang di lakukan Harris Interactive dan Skyfire pada bulan Mei dan Juni lalu, seperi yang kutip dari IntoMobile, mereka menemukan hasil yang mengejutkan tentang preferensi penggunaan video pada smartphone. Tercatat lebih dari 900 warga AS dan 1000 pemilik smartphone di Inggris ikut berpatisipasi dalam survey tersebut. Hasilnya, hampir tujuh dari delapan responden (86%) mengatakan bahwa mereka lebih menyukai dan menggunakan video definisi standar dibandingkan definisi tinggi.
Ini merupakan suatu hal yang bertolak belakang, karena banyaknya layanan yang mendorong terus video HD. Dan, ini ternyata terlalu berat untuk sebuah perangkat mobile. Alhasil, apa yang dilakukan oleh penyedia konten video HD itu pun seakan tidak berguna.
Dalam survey itu mereka mulai melihat perubahan besar dalam cara konsumen menggunakan dan berfikir tentang perangkat mobile mereka. Ketika koneksi data via mobile mereka rendah maka akan lebih memilih kualitas yang normal. Ini merupakan pemikiran yang wajar, mengingat kecanggihan teknologi belum terlalu seimbang dengan media yang mengakomodasinya untuk sebuah hasil yang terbaik.
Sebagai contoh nyatanya, misalkan kita menikmati video dari YouTube, dimana di portal video online tersebut banyak format video yang ditawarkan mulai dari kelas biasa hingga HD. Namun, ternyata sebagian besar dari kita lebih memilih format biasa, bukan HD karena permasalahan teknologi data yang belum siap untuk itu. Kalauupun kita memaksakan, maka sebagai imbasnya adalah waktu akses yang jauh lebih lama.
Melihat gambaran hasil survey dan kenyataan, maka ini tentunya bisa menjadi koreksi bagi para penyedia konten untuk mencari solusi yang lebih tepat bagi kenyamanan user. Bagaimana menurut Anda?
Terkait konten, ada yang berupa format video. Nah, di sini tampaknya penyedia konten berlomba-lomba menghadirkan konten video dengan definisi tinggi (video HD). Memang sih, secara kualitas gambar lebih oke, dimana smartphone pun terukur kompatibel dengan format macam ini. Tapi, ternyata ada tanggapan yang berbeda terkait konten video ini, yang agak berlawanan dengan tujuan penyedia konten.
Pada sebuah survey yang di lakukan Harris Interactive dan Skyfire pada bulan Mei dan Juni lalu, seperi yang kutip dari IntoMobile, mereka menemukan hasil yang mengejutkan tentang preferensi penggunaan video pada smartphone. Tercatat lebih dari 900 warga AS dan 1000 pemilik smartphone di Inggris ikut berpatisipasi dalam survey tersebut. Hasilnya, hampir tujuh dari delapan responden (86%) mengatakan bahwa mereka lebih menyukai dan menggunakan video definisi standar dibandingkan definisi tinggi.
Ini merupakan suatu hal yang bertolak belakang, karena banyaknya layanan yang mendorong terus video HD. Dan, ini ternyata terlalu berat untuk sebuah perangkat mobile. Alhasil, apa yang dilakukan oleh penyedia konten video HD itu pun seakan tidak berguna.
Dalam survey itu mereka mulai melihat perubahan besar dalam cara konsumen menggunakan dan berfikir tentang perangkat mobile mereka. Ketika koneksi data via mobile mereka rendah maka akan lebih memilih kualitas yang normal. Ini merupakan pemikiran yang wajar, mengingat kecanggihan teknologi belum terlalu seimbang dengan media yang mengakomodasinya untuk sebuah hasil yang terbaik.
Sebagai contoh nyatanya, misalkan kita menikmati video dari YouTube, dimana di portal video online tersebut banyak format video yang ditawarkan mulai dari kelas biasa hingga HD. Namun, ternyata sebagian besar dari kita lebih memilih format biasa, bukan HD karena permasalahan teknologi data yang belum siap untuk itu. Kalauupun kita memaksakan, maka sebagai imbasnya adalah waktu akses yang jauh lebih lama.
Melihat gambaran hasil survey dan kenyataan, maka ini tentunya bisa menjadi koreksi bagi para penyedia konten untuk mencari solusi yang lebih tepat bagi kenyamanan user. Bagaimana menurut Anda?
0 komentar:
Posting Komentar