Tampilkan postingan dengan label Hang Out. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hang Out. Tampilkan semua postingan
on Rabu, 23 November 2011

Air, ikan hiu, dan darah—tiga bumbu klasik untuk menciptakan sebuah film horor yang menegangkan. Bayangkan Anda berenang dengan tenang di laut bersama dengan teman dan ratusan pengunjung lainnya. Tiba-tiba sebuah sirip muncul di permukaan, bergerak mendekat dengan cepat, dan satu per satu pengunjung mulai berteriak ketika darah mulai menggenang, mengeruhkan warna air laut yang biru. Namun, film horor terbaru yang menghadirkan ikan hiu justru mengambil setting di danau, bukan di laut. Bagaimana bisa ikan hiu hidup di danau?
Shark Night, sebuah film horor garapan David R. Ellis, bercerita tentang tujuh mahasiswa Tulane University yang berlibur di sebuah rumah di tepi danau Pontchartrain, Louisiana. Seperti film horor bersimbah darah ala Hollywood lainnya, rumah Sara—tokoh utama dalam film ini yang diperankan oleh Sara Paxton—tersebut tidak memiliki resepsi sinyal selular yang mumpuni untuk bertelekomunikasi dengan dunia luar. Ketujuh mahasiswa ini tentunya hanya memedulikan pengalaman liburan yang menyenangkan dan mereka pun mulai bermain di danau tersebut.
Tanpa sepengetahuan mereka, danau Pontchartrain telah menjadi rumah bagi sejumlah ikan hiu yang entah datang dari mana dan terdampar di sana. Satu per satu di antara mereka pun mulai menjadi korban—dari yang terluka parah hingga mereka yang menjadi santapan para ikan hiu. Pesta jeritan dan darah dimulai! Keadaan semakin buruk ketika orang-orang yang harus mereka andalkan hanya seorang sherif yang tampaknya tidak memerhatikan kejadian di sekelilingnya dan dua penduduk lokal yang sama sekali tidak bersahabat.

Karakter dangkal, cerita yang mudah ditebak, dan adegan-adegan aneh

Mengambil kebiasaan penggarapan cerita horor Amerika, sebagian besar tokoh protagonis yang menjadi sorotan hanya memiliki peran sebagai calon korban yang akan menghiasi layar lebar dengan cipratan darah. Bahkan dari ketujuh mahasiswa Tulane University dalam film ini, hanya Sara Powski dan Nick LaDuca (Dustin Milligan) yang perannya terasa penting. Selain sebagai pemilik rumah, Sara juga diceritakan sempat memiliki sejarah percintaan dengan Dennis Crim (Chris Carmack), salah seorang penduduk lokal danau Pontchartrain. Tokoh Nick LaDuca sempat memainkan peran penting sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang membantu teman-temannya yang menjadi korban terkaman hiu.
Dari segi cerita, Shark Night tidak menyuguhkan plot yang “menggigit”, bahkan sejumlah adegan serangan ikan hiu yang disuguhkan pun tidak begitu menegangkan dan sesekali memunculkan pertanyaan di benak saya. Seperti dalam adegan waterskiing yang memperlihatkan Malik (Sinqua Walls) diserang oleh seekor hiu dan terpaksa berenang ke tepi danau. Dalam adegan tersebut diperlihatkan speedboat yang dikendarai oleh Nick telah menyusuri danau dengan cepat, menjauh dari tepi danau, dan spot tersebut dikelilingi oleh pepohonan. Namun, ketika Malik terjatuh, tiba-tiba ia sudah berenang sampai ke tepi danau dengan selamat. Bagaimana mungkin ia berenang dengan jarak sejauh itu dan masih berhasil mengelak dari serangan hiu yang kecepatan berenangnya lebih tinggi? Adegan serupa beberapa kali terjadi selama film berlangsung.
Beragam detail dan kesalahan minor terlihat jelas di film ini. Seperti Beth (Katharine McPhee) yang diceritakan baru saja membuat tato di punggungnya dan tiba-tiba sudah bisa berendam di kolam renang. Atau salah satu tokoh yang diceritakan kehilangan satu lengannya akibat serangan hiu. Dalam sebuah adegan, tokoh tersebut terlihat sangat jelas menyembunyikan lengannya di balik punggung. Mungkin bagian yang paling bagus dari film ini adalah animasi CGI setiap ikan hiu yang terlihat nyata dan menyeramkan. Apalagi beberapa kali diperlihatkan ikan hiu tersebut bisa menerkam mangsanya dengan melompat ke luar dari air. Gerakan ini pastinya lebih menyeramkan dibanding kecepatan berenang mereka yang bahkan mengalahkan speedboad dan jetski.
Dilihat dari segi cerita, kedalaman karakter masing-masing tokoh, dan eksekusi sejumlah adegan, film Shark Night lebih cocok jika dirilis langsung ke DVD. Banyak adegan yang terasa klise dan mudah ditebak, bahkan sejumlah adegan serangan hiu yang ditampilkan tidak cukup menegangkan untuk membuat penonton duduk di ujung kursi sambil setengah menutup mata. Walaupun begitu, sejumlah aktor dalam film ini berhasil memainkan perannya dengan baik dan patut diacungi jempol.
Tanggal rilis:2 September 2011 (Amerika Serikat)
Genre:Thriller-horror
Durasi:91 menit
Sutradara:David R. Ellis
Pemain:Sara Paxton, Dustin Milligan, Chris Carmack, Katharine McPhee, Joel David Moore, Sinqua Walls, Jimmy Lee Jr.
Studio:Sierra Pictures
Read More..
on Selasa, 15 Februari 2011

BURGER! Bagi sebagian teman saya, makanan yang satu ini menjadi salah satu makanan favorit mereka, bahkan masuk ke dalam daftar “top 3”. Kebanyakan orang menyukai burger karena porsinya yang mengenyangkan dan penyajiannya yang praktis. Makanan yang satu ini menjadi pilihan para pekerja sibuk yang memiliki sedikit waktu di jam makan.
Itulah yang membuat Gran Flora Hotel mengembangkan menu burger mereka untuk memberikan variasi pilihan bagi para pelanggan mereka. Jika pada awalnya Gran Flora hanya menyediakan satu varian burger, mereka mengembangkannya menjadi sembilan varian. Variasi rasa sembilan daging burger tersebut diambil dari berbagai variasi rasa dari beberapa wilayah di dunia. Selain itu, pihak hotel juga memodifikasi rasa dengan mencampurkan daging dengan berbagai jenis rempah-rempah. Hasilnya, sembilan varian burger bisa Anda pilih: Mexican Burger, Flora Burger, Middle Eastern Burger,  Mushroom Swiss Burger, Classical Burger, Crunchy Chicken Burger, Vegetarian Burger, Beef Rendang Burger, dan German Frikadellen Burger.
Jika Anda pecinta pedas, Mexican Burger dapat menjadi pilihan yang pas. Daging burger diberi “topping” chili con carne di atasnya yang terdiri dari campuran kacang merah, cabe, dan daun ketumbar. Menu ini dilengkapi dengan cocolan (salsa) yang dijamin memanjakan lidah Anda yang terbiasa dengan cita rasa pedas. Daging Mexican burger memiliki rasa yang sangat kuat: pedas, gurihm dan sedikit asam. Bagaimana untuk orang yang tidak menyukai pedas dan menginginkan rasa burger yang “pada umumnya”? Anda bisa memilih Flora burger yang bercita rasa lembut dengan campuran susu dan keju; Mushroom Swiss Burger yang terdiri dari campuran daging, jamur kancing, herb, dan krim; Classical Burger yang memiliki rasa klasik; dan Vegetarian Burger yang terbuat dari campuran kentang, jamur, dan herb. Menu terakhir pastinya akan menjadi alternatif terbaik bagi para vegetarian yang tetap ingin dapat menyantap burger. Jenis lainnya yang akan memberikan sensasi makan burger yang berbeda adalah Middle Eastern Burger yang diramu dengan rempah-rempah khas Timur Tengah, seperti kapulaga, jinten, dan yogurt. Rasanya sedikit unik, antara campuran gurih dan sedikit pedas.
Di antara sembilan varian tersebut, terdapat dua jenis burger yang rasanya cukup unik. Beef rendang burger hadir untuk mewarnai dunia burger yang sudah ada. Jika selama ini Anda hanya mencicipi daging burger dengan rasa klasik, Anda bisa menyantap burger dengan cita rasa rending: rasa yang sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Penggagas ide ini adalah Executive Chef Gran Flora Hotel, Chef Cahya. Ia mengombinasikan daging dengan bumbu rendang dan menyajikannya ke dalam bentuk burger. Beef Rendang Burger mencuri hati saya karena rasanya yang kaya dan berbeda dari rasa daging burger pada umumnya.
Varian terakhir dan yang paling unik adalah Chicken Crunchy Burger. Ini adalah satu-satunya menu burger yang dibuat dari daging ayam. Keunikannya, daging ayam tersebut memiliki cita rasa yang creamy dan gurih. Rahasianya, daging ayam diolah dengan susu dan telur, lalu digoreng dengan menggunakan campuran tepung dan cornflakes. Sooo crunchy! Saat melihat penyajian lengkap burger ini, saya cukup terkejut karena daginya begitu besar dan tebal. Hhmm..saya bisa membaginya menjadi dua porsi dan tentunya akan sangat mengenyangkan!
Chef Cahya juga menggunakan metode penyajian yang cukup unik dan berbeda dari penyajian burger pada umumnya. Satu porsi burger akan disajikan dalam bentuk terbuka. Topping sayuran disajikan terpisah dan diletakkan di pinggiran piring. Topping sayuran tersebut terdiri dari selada, bawang bombay, pickles, dan tomat. Jadi, pengunjung yang tidak menyukai salah satu sayuran tersebut bisa mengatur sendiri topping mana yang akan dimakan dan yang tidak. Selain itu, penyajian dalam bentuk terbuka membuat pengunjung tidak perlu repot mengeluarkan isi burger tersebut jika ada bagian yang tidak mereka sukai. Mayonnaise dan saus sambal juga disajikan terpisah dalam wadah kecil, membuat konsumen leluasa menyiapkan burgernya sesuai selera. Tak lupa, salad sehat berisi kol dan wortel dan kentang goreng juga disajikan di dalam satu piring.
Hotel ini mengedepankan kualitas rasa dengan meracik dan memasak daging hanya pada saat menu tersebut dipesan. Kenikmatan burger khas Gran Flora juga didukung dengan roti yang juga dibuat langsung oleh Chef Gran Flora Hotel. Dengan harga Rp65.000 nett, Anda sudah bisa menikmati menu ini plus soft drink.
Menu-menu tersebut dapat dipesan di seluruh Lounge dan Restoran Gran Flora Hotel atau bisa juga melalui room service. Bahkan, hotel ini melayani take away dan pemesanan delivery ke area Kemang dengan promo buy 100 get 1 free!
Burger Fiesta at Gran Flora HotelJl. Kemang Raya No. 7
Kebayoran Baru, Jakarta 12730
Indonesia
T. +62 21 719 8000
Read More..

Apakah Anda pecinta sushi namun tidak menyukai beberapa bahan yang ada di dalamnya? Jika selama ini Anda “terpaksa” menyisihkan bahan yang tidak Anda sukai dari sushi yang Anda makan, mungkin salah satu solusinya adalah menentukan sendiri isi sushi Anda. Caranya, kunjungi Koiki Japanese Restaurant dan nikmati sensasi melahap sushi sesuai keinginan Anda!
Perayaan satu tahun Koiki Japanese Restaurant
Koiki Japanese Restaurant bukanlah restoran Jepang baru. Restoran yang terletak di Plaza Indonesia ini telah berdiri sejak tahun lalu dan merayakan ulang tahun pertamanya pada 2 Februari 2011 lalu. Restoran yang mengunggulkan berbagai menu soba ini menambahkan satu program spesial mereka, yaitu “Make Your Own Sushi”. Program ini memungkinkan pengunjung untuk menentukan sendiri tiap bagian dari sushi mereka, termasuk nama sushi-nya.
Di tiap meja, pengunjung akan mendapatkan lembaran yang berisi pilihan bahan sushi yang terbagi menjadi empat, yaitu main (contoh pilihan terdiri dari salmon, unagi, kani stick, salmon skin, dan lain-lain), secondary (tobiko, avocado, cheese, carrot, dan lain-lain), topping (tempura flakes, black sesame seed, togarashi, dan lain-lain), dan mayonnaise (reguler mayo, spicy mayo, garlic mayo, dan lain-lain).  Tiap pilihan disertai harga per bagian sehingga Anda tidak hanya menentukan isi sushi Anda, melainkan juga menentukan harganya. Jangan lupa untuk mengisi kolom “Name of Sushi” sesuka Anda dan… VOILA, sushi kreasi Anda pun akan disajikan dalam hitungan beberapa menit. Saat perayaan ulang tahun pertama restoran ini beberapa hari lalu, saya dan beberapa teman media berkesempatan untuk mengkreasikan sendiri sushi kami. Hasilnya, bisa Anda lihat di foto-foto berikut ini!
Sushi hasil kreasi saya didominasi dengan salmon, tobiko, dan avocado. Saya sengaja tidak menambahkan mayo di dalamnya agar rasanya tetap segar dan minim kalori. Sushi tersebut saya namakan sesuai dengan nama saya, “Lucky Star Sushi”. Satu hal yang membuat saya sangat gembira adalah porsi per piece nya yang cukup besar. Satu porsi berisi delapan buah sushi. Bagi saya, porsi ini cukup mengenyangkan. Sayangnya, saya tidak mendapatkan sushi dengan taburan tobiko, seperti keinginan saya. Mungkin keterangan saya kurang jelas atau bagaimana, namun chefnya meletakkan tobiko di dalam gulungan sushi, bersama salmon dan avocado. Rasa sushi yang disajikan restoran ini hampir sama dengan sushi-sushi yang disajikan di restoran Jepang lainnya. Rasanya cukup segar dan otentik. Saya tidak menemukan rasa dan bau-bauan aneh yang mengganggu kenikmatan makan siang saya.
Seperti yang telah saya sebutkan di atas, restoran ini juga memiliki menu andalan lainnya, yaitu soba. Koiki memiliki tiga jenis soba, yaitu Kake Soba (disajikan dengan kuah panas), Zaru Soba (disajikan di atas bamboo dan dinikmati dengan yakumi (kecap jepang, wasabi, rumput laut kering, serpihan katsuobushi dan irisan daun bawang)), dan Yaki Soba (soba goreng dan disajikan dengan saus bulldog, bercitarasa masam). Keunikan Soba di restoran ini adalah dari segi bahan dasarnya. Koiki meramu dan meramu soba sendiri, menggunakan gandum buck khusus, dan tidak menggunakan bahan penyedap dan pengawet kimia. Koiki memiliki beberapa menu soba, seperti Kamo Namban Soba (soba yang dijasikan dengan kuah kaldu panas dan diberi irisan daging bebek di atasnya), Salmon Teriyaki Soba (dimasak dengan cara sauté dan disajikan bersama Norwegian Salmon Steak dan dilumuri saus teriyaki), Soba Crepes (dadar dari tepung soba disajikan dengan es krim teh hijau, mocha, kacang merah, dan irisan buah peach), dan lain-lain.
Restoran yang memiliki arsitektur unik perpaduan antara Jepang dan Indonesia ini menyediakan beberapa promo dan paket yang bisa Anda jadikan pilihan hemat. Misalnya, paket makan siang “Hot Deal” yang berlaku Senin—Jumat terdiri dari tiga macam paket yang isinya sudah mencakup appetizer, main course, dessert, dan minum. Selain pilihan paket, restoran ini juga bekerja sama dengan BNI untuk memberikan diskon sebesar 35% yang berlaku hingga Juli 2011. Khusus untuk tamu berkebangsaan Jepang, restoran ini memberikan diskon secara kontinyu sebesar 15% hanya dengan menunjukkan kartu nama atau kartu tanda pengenal lainnya.
Koiki Japanese Restaurant juga menyediakan special package seperti “Sushi Party” dengan reservasi minimal 5 orang dan menyediakan layanan antar (syarat dan ketentuan berlaku).
Menurut saya, restoran berkapasitas sampai dengan 98 orang ini memiliki konsep bangunan dan arsitektur yang tidak biasa yang membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. Anda bisa memiliki duduk di kursi biasa atau di area tatami yang terletak di bagian dalam restoran. Di sisi dalam pojok, ada sebuah panggung mungil yang biasanya digunakan untuk pertunjukan live music. Bagi Anda yang perokok, bisa tetap menikmati suasana restoran ini tanpa takut mengganggu pengunjung lain yang bukan perokok.
Koiki Japanese Restaurant and Tea HouseOpen hour: 10.00—22.00
Plaza Indonesia Shopping Center, Lower Basement
Unit no. 41, 42, 42A
Informasi lebih lanjut: (021) 29923552
Read More..